Hari HUTAN – KEPANJEN RUN 2020 – https://kepanjenrun.com/

 

Glamour memperingati hari hutan sedunia
>‌Glamour ( Glorious adventurer and mountainer) adalah organisasi pendaki gunung dan pecinta alam yang berdiri sejak tahun 1976 sampai sekarang tahun 2020. Bertempat di kota kepanjen Kabupaten Malang kita sudah berdiri lebih dari 40 tahun.
>‌ dalam rangka memperingati hari hutan sedunia yang bertepat pada tanggal 22 maret tahun 2020 Glamour beserta Maker (Malang Keep Running) selaku komunitas lari Malang Selatan mengadakan Kepanjen Run 2020 di Stadion Kanjuruhan
>‌ peserta akan memperebutkan total hadiah sebesar 28 jutah rupiah

Tentang Kota Batu – Malang

Kota Batu adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak 90 km sebelah barat daya Surabaya atau 15 km sebelah barat laut Malang. Kota Batu berada di jalur yang menghubungkan Malang-Kediri dan Malang-Jombang. Kota Batu berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan di sebelah utara serta dengan Kabupaten Malang di sebelah timur, selatan, dan barat. Wilayah kota ini berada di ketinggian 700-2.000 meter dan ketinggian rata-rata yaitu 871 meter[2] di atas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata mencapai 11-19 derajat Celsius.

 

Kota Batu dahulu merupakan bagian dari Kabupaten Malang, yang kemudian ditetapkan menjadi kota administratif pada 6 Maret 1993. Pada tanggal 17 Oktober 2001, Batu ditetapkan sebagai kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang.

 

Batu dikenal sebagai salah satu kota wisata terkemuka di Indonesia karena potensi keindahan alam yang luar biasa. Kekaguman bangsa Belanda terhadap keindahan dan keelokan alam Batu membuat wilayah kota Batu disejajarkan dengan sebuah negara di Eropa yaitu Swiss dan dijuluki sebagai De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa[3] Bersama dengan Kota Malang dan Kabupaten Malang, Kota Batu merupakan bagian dari kesatuan wilayah yang dikenal dengan Malang Raya (Wilayah Metropolitan Malang).

Kepanjen RUN – GUNUNG KAWI – KEPANJEN – MALANG

 

 

Pesarean Gunung Kawi merupakan lokasi pemakaman Kanjeng Kyai Zakaria II atau juga dikenal sebagai Eyang Djoego yang menjadi tempat ziarah spiritual hingga ke manca negara. Pesarean ini terletak di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur sehingga dikenal dengan namanya yang sekarang, meskipun desa tempat situs ini berada bernama Wonosari. Situs Pesarean Gunung Kawi terletak di sebelah barat Malang dengan jarak sekitar ± 53 Km dari kota.[1] Selain itu, sekitar 5 km di atas pesarean terdapat Petilasan Prabu Sri Kameswara yang lebih dikenal dengan nama Keraton.[2]

 

Pesarean Gunung Kawi dikenal sebagai situs untuk memohon rezeki dan banyak dikunjungi oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Jumlah peziarah meningkat pada malam Senin Pahing dan Jumat Legi. Dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro pada tahun 1830, sebagian pengikutnya melarikan diri ke Jawa Timur. Kyai Zakaria II yang menjadi penasihat spiritual Pangeran Diponegoro mengganti namanya menjadi Eyang Soedjoego atau Eyang Djoego. Ia mengungsi ke timur melewati berbagai tempat seperti Pati, Bagelen, Tuban, Kepanjen, hingga akhirnya tiba di Desa Sanan, Kesamben, Blitar sekitar tahun 1840. Ia mendiami suatu dusun yang selanjutnya dikenal sebagai Dusun Jugo (Djoego). Sekitar satu dekade pertama, Eyang Djoego membuka padepokan dan menerima murid yang salah satu diantaranya menjadi putera angkatnya, yaitu Raden Mas Jonet atau Raden Mas Iman Soedjono (Eyang Soedjo) yang merupakan salah satu senapati Pangeran Diponegoro. Pada dekade kedua, Ki Moeridun dari Warungasem, Pekalongan datang menjadi murid R.M. Iman Soedjono.[4]

 

Eyang Djoego kemudian memerintahkan R.M. Iman Soedjono dan Ki Moeridun untuk membuka hutan di sebelah selatan Gunung Kawi dan berpesan bahwa ia ingin dimakamkan di sana. Ia juga meramalkan bahwa desa yang akan dibuka tersebut akan ramai serta menjadi tempat pengungsian. Murid-murid Eyang Djoego yang berangkat berjumlah sekitar 40 orang yang diantaranya beretnis Tionghoa. Rombongan dipimpin oleh Mbah Wonosari diiringi 20 orang pengikut dan membawa dua pusaka bernama Kudi Caluk dan Kudi Pecok. Selama perjalanan, rombongan mengalami berbagai peristiwa yang menyebabkan terjadinya pemberian nama berbagai tempat.[4]

 

Lokasi ditemukan batu yang dikerumuni semut hingga tumpang tindih menjadi Tumpang Rejo.

Lokasi pembuatan perapian (Jawa; pawon) dekat pohon Loa Gondang yang tumbuh dekat tanjakan menjadi Dusun Lopawon.

Lokasi ditemukan gendok (sejenis panci) tembaga menjadi Dusun Gendogo.

Lokasi ditemukan pohon Bulu yang tumbuh sejajar dengan pohon Nangka dinamai Buluangko (kini Hutan Blangko).

Lokasi tempat menginap di atas gumuk (bukit kecil) ditanami dua buah kelapa, salah satunya tumbuh bercabang dua sehingga dinamai Klopopang (Jawa= klopo [“kelapa”] dan pang [“bercabang”]).

 

Dari Klopopang, rombongan membuka hutan ke arah selatan, kemudian ke timur, dan dilanjutkan ke utara hingga Kali Gedong, kemudian ke barat. Para peserta rombongan masing-masing membangun rumah dan sebuah padepokan. Pada padepokan tersebut, semua peserta rombongan berunding untuk memberi nama tempat yang baru saja mereka buka hingga akhirnya disepakati nama Wonosari sesuai nama pemimpin rombongan. Mereka mengutus salah satu pengikut untuk memberi tahu Eyang Djoego bahwa pekerjaan mereka telah selesai. Eyang Djoego berangkat ke Wonosari kemudian memberi petunjuk siapa saja yang menetap dan siapa yang pulang ke Dusun Jugo. Ia juga memberi pesan bahwa ia ingin dimakamkan di atas sebuah gumuk (bukit kecil) yang diberi nama Gumuk Gajah Mungkur. Di antara padepokan dan Gumuk Gajah Mungkur, mereka membuat sebuah taman sari (kini dibangun Masjid Agung Iman Soedjono. Eyang Doejogo sendiri kembali ke Dusun Jugo sementara R.M. Iman Soedjono ditugaskan untuk tinggal.

Pendirian Pesarean Gunung Kawi

 

Eyang Djoego wafat pada hari Senin Pahing, 1 Selo 1817 M (22 Januari 1871). Jenasahnya diberangkatkan dari Dusun Jugo dan di Gumuk Gajah Mungkur pada hari Rabu Wage. Karena sudah malam, jenasah Eyang Jugo dimakamkan pada hari Kamis Kliwon pagi. Oleh sebab itu, setiap hari Senin Pahing diadakan selamatan dan bila bertepatan dengan bulan Selo, peserta selamatan adalah seluruh penduduk desa. Selamatan tersebut dikenal dengan nama Barikan.

 

Desa Wonosari semakin ramai didatangi orang-orang yang bermaksud menetap. Sekitar tahun 1871-1876, seorang putri Residen Kediri bernama Ny. Schuller datang untuk berobat ke R.M. Iman Soedjono hingga sembuh. Ia tidak pulang lagi ke Kediri hingga R.M. Iman Soedjono wafat pada hari Rabu Kliwon tahun 1876 M (8 Februari 1876). R.M. Iman Soedjono dimakamkan satu liang dengan Eyang Djoego.

Pemugaran

 

Pada tahun 1932, Ta Kie Yam atau mpek Yam datang berziarah ke Pesarean Gunung Kawi, tetapi akhirnya tinggal menetap. Ia bersama dengan beberap temannya di Surabaya dan seorang dari Singapura kemudian membangun jalan dari pesarean hingga ke bawah berikut dengan gapura-gapuranya.

Rokok Bentoel

Informasi lebih lanjut: Bentoel Group

 

Sekitar tahun 1950an, Ong Hok Liong mengalami keterpurukan ekonomi sehingga ia berziarah ke Pesarean Gunung Kawi. Pada malam harinya, ia bermimpi melihat bentul kemudian bertanya maksudnya kepada juru kunci makam. Juru kunci menganjurkan agar ia mengubah merk rokoknya menjadi Bentoel, yang ia lakukan pada tahun 1954. Setelah itu, bisnis Ong Hok Liong meningkat dan menjadikannya salah satu orang kaya di Indonesia.

Pemekaran wilayah dan pencanangan tempat wisata

 

Pesarean Gunung Kawi terus berkembang dan diwarnai oleh akulturasi budaya dan agama. Oleh sebab itu, pada tahun 1986, Kecamatan Ngajum dimekarkan sehingga diperoleh kecamatan baru yaitu Kecamatan Wonosari. Pada tahun 2002, pemerintah Kabupaten Malang mencanangkan Desa Wonosari sebagai “Desa Wisata Ritual Gunung Kawi”.

Wisata Gunung Kawi

 

Jalan dari tempat parkir hingga komplek Pesarean Gunung Kawi adalah berupa rangkaian tangga sepanjang sekitar 750 meter dengan kemiringan hampir 35° serta dibatasi oleh tiga buah gapura yang dipenuhi relief Pangeran Diponegoro. Di sepanjang jalan menuju pesarean terdapat penginapan berupa hotel, losmen, atau rumah penduduk. Selain itu, terdapat banyak rumah makan dan stan-stan penjual bunga untuk persembahan dan makanan serta barang-barang lainnya.[2] Beberapa kuliner khas yang dijual pada stan-stan makanan Gunung Kawi adalah ubi ungu kukus, jagung kukus, tebu, ronde, dan madu serta sarang tawon.

Gebyar Ritual 1 Suro

 

Gebyar Ritual 1 Suro merupakan sebuah perayaan ritual yang dimulai semenjak tahun 2000. Pada acara ini, tumpeng-tumpeng dikirab dari gapura paling bawah (stanplat) hingga pesarean. Tumpeng-tumpeng diletakkan pada jolen atau wadah tumpeng yang dihias berbagai bentuk serta diiringi lagu dan nyanyian bernuansa tradisional Jawa, Islam, China, dan musik modern. Perayaan ditutup dengan pembakaran sangkala yang melambangkan keburukan manusia.[6]

Ziarah spiritual

Syukuran

 

Para peziarah yang hendak mengunjungi pesarean wajib mendaftarkan syukuran pada loket di depan gerbang masuk menuju komplek pesarean. Syukuran dilaksanakan pada pukul 10.00, 15.00, dan 21.00 WIB. Peziarah dapat membawa persembahan berupa bunga yang banyak dijual pada stan-stan menuju komplek pesarean atau tumpeng yang dapat dibeli di loket. Persembahan diterima oleh juru kunci untuk diteruskan ke depan makam.[2] Setelah syukuran selesai, peziarah dapat membawa pulang tumpeng yang diletakkan di atas tampah dan dilengkapi berbagai lauk seperti ayam utuh.

Air janjam

 

Air janjam merupakan nama yang digunakan untuk merujuk air yang ditampung pada dua buah guci tanah liat kuno peninggalan Eyang Djoego. Kedua guci tersebut semenjak dulu digunakan untuk menampung air yang digunakan untuk pengobatan.

Pohon dewandaru

 

Pohon dewandaru atau pohon kesabaran ditanam oleh Eyang Djoego untuk melambangkan keamanan pada daerah Wonosari. Para peziarah memiliki kepercayaan untuk menunggu gugurnya buah, daun, atau ranting pohon tersebut untuk digunakan sebagai jimat pemberi kekayaan.[7] Menurut legenda, pohon tersebut berasal dari tongkat Eyang Djoego yang ditancapkan ke tanah agar wilayah Gunung Kawi aman dan bebas gangguan dari siapapun, baik manusia maupun makhluk halus.[8] Banyak peziarah yang duduk-duduk di halaman sekitar untuk menunggu gugurnya bagian tanaman dewandaru.

Klenteng

Di dekat komplek pesarean sebelum memasuki halaman padepokan terdapat sebuah klenteng tempat beribadah umat Konghucu dan Buddhis. Klenteng ini memiliki junjungan utama Dewi Kwan Im.

Stadion Kanjuruhan Kepanjen – Malang – Kandang AREMA FC – BHUMI AREMA

Stadion Kanjuruhan yang terletak di Jalan Trunojoyo, Kepanjen, Kabupaten Malang ini dibangun sejak tahun 1997 silam dengan menelan biaya mencapai 35 milyar rupiah. Pada 9 Juni 2004, Presiden Megawati Soekarnoputri resmi menandatangani plakat yang diletakkan di depan stadion milik Pemerintah Kabupaten Malang ini, dengan ditandai gelaran pertandingan kompetisi Divisi I Liga Pertamina Tahun 2004, antara Arema Malang melawan PSS Sleman. Pertandingan berakhir untuk kemenangan Arema 1-0. Itulah pertama kalinya Arema dan Aremania pindah dari kandang lama Stadion Gajayana, Kota Malang ke Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Sejak kepindahannya ke Stadion Kanjuruhan, kisah keberuntungan dan kemalangan seolah silih berganti datang dan pergi menyertai perjalanan Arema. Stadion Kanjuruhan menjadi saksi bisu perjalanan langkah skuat Singo Edan menggapai mahkota Copa Indonesia 2005 dan 2006. Sebelum babak final di dua edisi Piala Indonesia itu, Arema meraih kemenangan-kemenangan penting di Stadion Kanjuruhan sehingga mengantarkannya kepada pertempuran di partai puncak hingga mengangkat trofi juara dua kali berturut-turut. Di Stadion Kanjuruhan ini pula, Aremania pernah meraih predikat The Best Suporter di ajang Copa Indonesia 2006, meski pemberian gelar dan hadiah tak dilakukan secara simbolis di Stadion Kanjuruhan.

 

Di stadion ini Arema juga pernah ditahbiskan sebagai kampiun kompetisi sepakbola kasta tertinggi bertajuk Indonesia Super League (ISL) 2009-2010. Kala itu, upacara penobatan juara digelar lewat laga Perang Bintang antara Arema Indonesia melawan Tim All-Star, yakni gabungan 22 pemain yang bermain di ISL pada 6 Juni 2010. Arema selaku juara ISL harus takluk dengan skor tipis 4-5. Di akhir laga, kiper Arema, Kurnia Meiga Hermansyah pun diganjar gelar Pemain Terbaik ISL 2009-2010 di stadion ini.

 

Selain gelar juara tersebut, di tahun 2010, Panpel Arema juga mendapatkan gelar Panpel Terbaik dalam ISL 2009-2010. Selain itu berkat kerjasama dengan Aremania, Panpel Arema mampu mencatatkan rataan penonton tertinggi se-Asia Tenggara untuk musim kompetisi 2009-2010 dan 2010-2011.

 

Stadion yang juga menjadi kandang klub medioker milik Pemerintah Kabupaten Malang, Persekam Metro FC ini pun sempat menjadi saksi betapa luar biasanya Aremania dalam mendukung klub kebanggaannya Arema. Sebut saja beberapa kali aksi pengibaran bendera raksasa berlogo Arema, termasuk aksi kolosal One Incredible Blue (OIB) pada musim 2014, hingga One Soul One Nation yang baru saja kita lewatkan pada 17 Januari 2016 lalu.

 

Kanjuruhan juga sempat menjadi stadion yang “angker” lantaran ditinggal para “penghuninya” di ISL musim 2011-2012, kala terjadi dualisme klub Arema. Stadion berkapasitas 45 ribu itu hanya terisi tak lebih dari seribu orang saja di tiap laga yang dilakoni Arema selama putaran pertama. Lambat laun, di putaran kedua, stadion ini kembali penuh oleh lautan biru Aremania.

 

Pada awal musim 2014, stadion ini mengalami penambahan satu tribun, yakni tribun berdiri. Tribun ini berada di sekeliling sentelban dengan pagar yang memisahkan tribun dengan lapangan. Penambahan tribun ini praktis menambah kapasitas stadion menjadi benar-benar mencapai 45 ribu penonton. Ketua Panpel Arema, Abdul Haris menyatakan jika penambahan tribun ini dimaksudkan untuk mengantisipasi membludaknya Aremania pada laga-laga tertentu bertajuk big-match.

 

Stadion Kanjuruhan juga memiliki kenangan buruk sepanjang perjalanannya sebagai kandang Arema. Tepatnya pada 13 Juli 2005, terjadi insiden robohnya pagar pembatas tribun yang menelan satu korban meninggal seorang Aremania dari Perum Dirgantara, bernama Fajar Widya Nugraha (16 tahun). Selain itu, puluhan Aremania lainya terluka parah lantaran terjatuh ke sentelban yang dipisahkan oleh parit sedalam dua meter.

Sejarah Kota Kepanjen – Malang

Cerita kepahlawanan Raden Panji Pulang Jiwo dalam mengusir pasukan Mataram Islam yang coba menguasai kembali Kadipaten Malang ternyata menjadi asal usul Kepanjen (versi Mataram Islam), yang saat ini menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Malang. Hal itu disebutkan dalam legenda lokal “Babad Malang” dan kitab “Babad Tanah Jawi Pesisiran”. Seperti yang dikisahkan para sesepuh dalam “Babad Kota Kepanjen”, daerah yang berada di wilayah Malang selatan itu berada di bawah pemerintahan Kadipaten Malang. Waktu itu, daerah Malang masih menjadi satu belum terbagi menjadi Kota dan Kabupaten, dan berada dalam kekuasaan Kesultanan Mataram Islam. Pusat Pemerintahannya diperkirakan berada di Pakishardjo, kemungkinan berada di timur pasar Desa Pakisaji. Kadipaten Malang yang kala itu dipimpin oleh seorang Adipati yang memiliki putri cantik jelita bernama Roro Proboretno yang dikenal memiliki kesaktian. Raden Panji Pulang Jiwo memperistri Proboretno melalui sebuah sayembara Adipati Malang yang mengatakan barang siapa yang bisa mengalahkan kesaktian Proboretno akan dinikahkan dengan putrinya tersebut. Singkat cerita, Raden Panji Pulang Jiwo yang awalnya seorang Adipati Sumenep, Madura, menjadi pemenangnya.

 

Dalam kitab Babad Tanah Jawi Pesisiran dijelaskan bahwa Adipati Malang dan seluruh adipati di daerah Jawa Timur menolak tunduk kepada Kesultanan Mataram Islam. Mereka tidak mau mengirim upeti. Karena Adipati Malang dianggap melakukan tindakan makar atau pemberontakan, maka Sultan Mataram memerintahkannya untuk menghadap. Alih-alih memenuhi panggilan, Adipati Malang tidak menghiraukannya. Akhirnya, dikirimlah pasukan Mataram yang dipimpin oleh Joko Bodho.

 

Pasukan Malang yang dipimpin Raden Panji dan Proboretno pun menyambut kedatangan pasukan Mataram di wilayah selatan. Pada akhirnya, terjadilah perang besar di sana. Perang tanding antara Proboretno dengan Joko Bodho tak terelakkan, sementara Raden Panji Pulang Jiwa menghadapi pasukan Mataram. Melalui pertempuran sengit, Joko Bodho akhirnya berhasil menancapkan keris ke tubuh Proboretno. Sempat diselamatkan, tapi akhirnya Proboretno meninggal dalam perjalanan menuju Kadipaten, dan dimakamkan dengan cara Islam di sebuah lahan yang saat ini berada di belakang kantor Diknas Kabupaten Malang di Wilayah Desa Penarukan.

 

Betapa marahnya Raden Panji ketika mengetahui istri tercintanya meninggal setelah dibunuh pimpinan pasukan Mataram. Tanpa pikir panjang, maka dikejarlah pasukan musuh, dengan menunggang kuda Sosro Bahu miliknya. Kala itu banyak pasukan Mataram yang terbunuh, dan sisanya mencoba bersembunyi di daerah hutan rimba yang kini bernama Desa Ngebruk, yang kemudian hari mendirikan dusun bernama Mataraman.

 

Keberadaan sisa pasukan Mataram yang bersembunyi akhirnya bisa diketahui Raden Panji melalui mata-mata. Maka, perang tanding antara Raden Panji melawan Joko Bodo pun terjadi. Karena kesaktian kerisnya sudah hilang akibat dipakai menusuk seorang perempuan (Proboretno), maka dengan mudah Joko Bodo mampu diatasi oleh Raden Panji.

 

Mengetahui kekalahan pasukannya akibat kesaktian Raden Panji, maka Sultan Mataram mengirim pasukan dengan jumlah yang lebih besar. Pasukan ini tidak langsung menyerbu Kadipaten Malang, melainkan menuju ke suatu tempat untuk mengatur strategi menghadapi kesaktian Raden Panji.

 

Sementara itu, sepeninggal Proboretno, Raden Panji mendapat guncangan jiwa yang berat, karena merasa berdosa tidak sanggup melindungi istrinya yang seharusnya tinggal di Kadipaten, bukan ikut berperang melawan Mataram.

 

Setelah berpikir keras, akhirnya perwira-perwira pasukan Mataram menemukan strategi jitu untuk melumpuhkan Raden Panji. Mereka membuat panggung yang di atasnya terdapat seorang putri Mataram yang wajahnya memang mirip dengan Putri Proboretno. Di depan tangga untuk naik ke pangung diberi jebakan sumur yang dalam. Pada suatu ketika, diundanglah Raden Panji untuk bertemu si Putri Proboretno palsu. Dengan diiringi tembang Asmorodono, Raden Panji yang merasa kegalauannya sedikit terobati dengan hadirnya Proboretno palsu, maka mendekatlah ia ke panggung. Saat hendak naik ke tangga, Raden Panji terkejut dan langsung terperosok ke dalam lubang sumur. Puluhan prajurit Mataram pun datang menghampiri mulut sumur itu untuk membunuh Raden Panji. Jenazah Raden Panji pun dimakamkan di dearah yang saat itu diberi nama Kepanjian atau Panjen sebagai simbol perlawanan dari Kadipaten Malang kepada Mataram.